godaan yang bisa saja disambut Matt dengan mudahnya namun tak pernah dilayaninya karena bertolak belakang dengan prinsipnya.

Diakuinya wajahnya memang terkesan playboy, gayanya pun flamboyan. Tapi dia tidak berselera gonta-ganti wanita. Kerajaan bisnis yang dirintisnya sejak awal lulus kuliah lebih menggugah seleranya daripada wanita-wanita bertubuh sempurna yang silih berganti mendekatinya.

Hingga akhirnya wanita kurus itu, yang jauh dari kata seksi, muncul di hadapannya. Begitu saja. Seperti turun dari langit. Tak jelas asal-usulnya. Tiba-tiba sudah menyita perhatiannya dari bisnis yang disayanginya. Claire, si pengganggu konsentrasi.

Kulitnya putih pucat seperti pualam. Wajah tirus dibingkai rambut coklat gelap yang panjang, hidung mancung yang mungil, bulu mata lentik dan panjang bak boneka, bibir tipis berwarna merah muda.

Tak ada yang spesial. Kecuali satu. Matanya. Kilaunya selalu berhasil menghipnotis gairahnya ketika Claire sedang menatap Matt dengan sendu. Mengingatkan Matt akan warna danau di sebuah buku cerita. Hijau yang gelap dan dalam.

Suara denting bel mengalihkan perhatian Matt ke arah  pintu butik yang terbuka. Dilihatnya satu per satu karyawannya berdatangan masuk dan mulai membenahi isi butik.

“Aneh,” celetuk Doni tiba-tiba di depan sebuah manekin.

“Apanya yang aneh?” tanya Lily.

Bagikan :