“Sudah lama saya mencari gaun berwarna hijau lumut persis seperti yang dipakai patung ini. Modelnya juga sesuai dengan selera saya.” Pengunjung itu memperhatikanku dengan seksama dari atas ke bawah sambil membelai bahan gaun yang sedang kukenakan.  “Mudah-mudahan ukurannya juga pas.”

“Bisa dicoba, Bu,” kata Lily.

“Benarkah?” tanya pengunjung itu antusias.

Lily mengangguk sambil tersenyum.

“Kalo begitu, saya coba dulu.”

“Kamar pas-nya di sebelah sana,” tunjuk Lily ke arah belakang kasir.

Oh, inilah bagian yang paling aku debarkan. Ketika pakaian yang sedang kukenakan ingin dicoba oleh salah satu pengunjung butik. Aku harus terlihat telanjang di depan etalase, walaupun untuk sementara. Aku malu!

“Kasihan kau, manekin,” ujar Doni melihatku. Ia menyampirkan sehelai syal coklat yang sangat lebar dan panjang untuk menutupi badanku. Hanya bisa menutupi sedikit, tapi lumayanlah daripada tidak sama sekali.

“Saya jadi ambil gaun yang ini, Sis,” ucap pengunjung tadi setelah keluar dari kamar pas.

“Nggak sekalian sama sepatu dan tasnya, Bu?” tanya Lily menawarkan.

Pengunjung itu menggeleng. “Saya sudah punya padanannya di rumah.”

“Baiklah. Mari kami bungkuskan,” ajak Lily. Mereka berdua lalu berjalan menuju kasir.

Bagikan :