Prolog

 

Pria itu tampak mengepalkan tangannya dengan kuat. Buku-buku jarinya tampak memutih. Rahang kokohnya tampak mengeras. Mata hijau beningnya tampak berkobar—bagaikan seluruh yang ia pandang akan terbakar seketika.

Ia harus melakukan sesuatu….

Ia harus membalaskan dendam adiknya….

Tiba-tiba tatapan matanya melembut ketika melihat satu-satunya keluarga yang ia sayangi kini sedang terbaring lemah. Wajah itu tampak pucat….

Bibir merah tipis yang biasa tersenyum lebar penuh kebahagiaan, kini hanya bibir yang putih tanpa hidupnya senyuman.

Berapa lama lagi mata itu terpejam?

Ia bisa saja melakukan sesuatu dengan uangnya. Membunuh pria br*ngsek itu mungkin?

Ah … itu terlalu cepat

Ia ingin pria itu merasakan apa yang adiknya rasakan. Ia akan melakukannya sendiri, jika memang itu akan memuaskan hatinya dan hati adiknya.

Pria br*ngsek itu…

Christian Derevano… tunggu pembalasanku!

Bagikan :