“Semoga kau nyaman tinggal di sini.” Wanita itu tersenyum dengan tulus.

“Terima kasih, Mrs. Huggens,” ujar Verline.

Sepeninggal Mrs.Huggens, Sharon segera masuk ke dalam kamarnya diekori oleh Verline. Sharon mulai berceloteh mencoba untuk mencairkan suasana dengan Verline yang sedari tadi hanya diam, namun gadis bermata hijau itu sama sekali tak menanggapi ucapan Sharon dan memilih untuk membereskan pakaiannya.

“Bisakah kau berhenti berbicara?!” sentak Verline seketika membuat Sharon bungkam.

“Tapi, aku hanya mencoba menjelask”—

“Terima kasih, tapi aku tak membutuhkan penjelasan tentang asrama dan sekolah ini! Mrs. Huggens telah menjelaskannya padaku!” Verline melangkah mendekati tasnya, ia tampak meraih sesuatu dari sana.

Sharon hanya menatapnya dengan tatapan tak percaya. Ia pikir ia dapat berteman baik dengan Verline, namun sepertinya dugaannya salah. Verline sama sekali tak bersahabat. Gadis itu memberikan batas tempat untuk mereka. Dengan mengikatkan tali di tengah-tengah ruangan kamar.

“Kau tidak boleh melewati batas ini!” tegas Verline dengan angkuhnya.

“A-pa?!” Sharon menganga tak percaya.

Ya  Tuhan .. ini kamarnya!

Bagikan :