pakaianmu! Aku menunggu di luar!” Verline meninggalkan Sharon yang masih mematung dengan pertanyaan yang berputar di otaknya.

Dalam hati, Sharon menggerutu. Memangnya dia siapa? Beraninya mengatur hidupku?!

Dengan kesal ia segera memakai pakaiannya. Setelah selesai Sharon segera menghampiri Verline yang telah menunggunya di luar. Gadis itu tampak sedang mendengarkan i-Podnya.

Lalu mereka melangkah beriringan melewati lorong kamar lain. Beberapa gadis tampak menatap Verline dengan pandangan bertanya. Atau sekedar mendengus karena iri. Yang ditatap seperti itu, hanya diam saja memilih fokus pada musik yang ia dengarkan.

Demikian juga, Verline sama sekali tak menghiraukan para pria yang bersiul kepadanya. Ia tampak santai dan menganggap semua orang itu tak ada. Sharon memainkan ujung seragamnya dengan gugup ketika Christian melangkah tepat berhadapan dengan mereka. Ia tampak tersenyum-ya tersenyum-tapi bukan kepadanya … melainkan pada Verline.

Verline mendongak untuk menatap siapa yang tersenyum kepadanya. Ia membalas senyuman pria itu dengan seulas senyuman miring. Pria itu … batinnya tertawa. Ia tahu pria itu akan dengan mudah terpesona padanya.

Mereka terus melangkah hingga pada akhirnya sampai di kelas. Sharon tampak lesu. Ia sangat tak bersemangat. Senyuman Christian kepada Verline ... andai aku yang mendapatkan senyuman itu.

Bagikan :