“Oh, aku belum terlalu mengenalnya,” jawabku singkat. Aku tidak ingin ada yang curiga kalau aku mengetahui tentang siapa Elvams sebenarnya. Karena itu sama saja membongkar identitasku juga.

“Wajahnya pucat sekali, apa dia sakit?”

“Aku tidak tahu. Tetapi kalau dia sakit, kau mau apa?”

“Merawatnya!”

Sepertinya temanku ini juga tertarik dengannya. Tetapi bagaimana reaksinya kalau tahu Elvams itu bukan manusia biasa.

“Kau menyukainya?” selidikku.

“Tidak, aku menginginkan dia untukmu.” Jawaban itu membuatku yang sedang minum jadi tersendak.

“Apa? Kau pasti bercanda.” Nada bicaraku sedikit berbisik.

“Iya, kalian sangat serasi. Kau sangat bersinar dan dia sangat pucat.” Aku sedikit bingung menanggapi pendapat manusia satu ini. Tetapi tak bisa kupingkiri ada beberapa puing dalam hati yang merasa senang mendengar pernyataan ini.

***

Download Full via GooglePlay : Download

Bagikan :