SATU

 

Aku melihat langit lepas. Cuaca sangat mendung dan berangin. Apa hari ini akan seperti kemarin-kemarin? Kulangkahkan kaki menuju halte bis yang membawaku ke rumah seperti biasanya.

Ternyata hari ini sama seperti yang kemarin-kemarin. Dia ada di sini. Aku mengambil beberapa jarak darinya.

Aku memutuskan mengikutinya. Bis yang aku tunggu dari tadi pun datang. Bis itu melaju. Aku duduk di belakang samping kirinya. Aku benar-benar suka saat seperti ini. Rasa senang benar-benar melanda diriku saat memandanginya dari kejauhan. Rasa bahagia merasuk ke tubuhku saat ia tersenyum simpul. Aneh memang, aku tidak tahu siapa dia tapi kenapa aku harus mengikutinya seperti ini? Akhirnya dia turun. Lalu aku juga turun dan mengikutinya perlahan tanpa ia sadari. Cuaca memang tidak menentu. Langit yang tadinya mendung sudah mulai sedikit tersinari. Pemuda itu menyusuri jalan dalam diam. Langkahnya hampir tidak terdengar meskipun ia memilih jalan yang cukup sepi. Sepertinya dia juga menghindari berjalan di bawah cahaya yang terlalu terang. Bahkan cenderung memilih kegelapan.

Dia berhenti di sebuah semak yang sepi sekali dari keramaian. Di sana ada seorang pria. Tapi pria itu kelihatan bingung melihatnya.

Bagikan :