DUA

 

Rintikan gerimis membahasahi seluruh jalan. Angin dingin terus menerpa. Semua tumbuhan bergerak di tempatnya. Setiap daun yang basah membuat suasana menjadi damai. Hampir seluruh siswa dan siswi menggunakan jaket ke sekolah. Langkahku terhenti seketika di depan kelas.

Aku menatap bangku di samping bangku milikku. Bangku itu seharusnya kosong karena Ghena sang pemilik bangku telah pindah sekolah satu minggu lalu, tetapi sekarang kenapa bangku itu telah diduduki? Dan lebih mengagetkanku adalah yang mendudukinya.

Pemuda yang kuikuti kemarin, dia duduk di sana. Dengan seragam sekolah bewarna hitam, ia duduk tepat di samping bangku milikku. Matanya juga membalas tatapanku. Tajam dan sekilas memberikan kesan menakutkan. Apa dia sudah tahu tentangku? Atau bahkan dia sudah tahu kalau aku tahu tentangnya? Aku pernah dengar mereka bisa membaca pikiran. Tetapi itu hanya ada di film-film yang tersebar di antara manusia, hanya cerita di film-film yang membuat mereka menjadi makhluk abadi paling terkenal di bumi ini.

“Hyena!” Suara Pak guru mengagetkanku.

“Iya, Pak.” Aku mulai bersuara.

Bagikan :