Sungguh aku yakin suara ini sedang bergetar tak tentu. Tanganku masih bergetar. Mengepal keras hingga mungkin saat ini kuku-kuku di jariku memutih. Melihat kemampuannya kemarin malam, aku tak yakin bisa menang jika bertarung dengannya.

“Sudah bel, kenapa masih berdiri di depan pintu?” Dia memperjelas makna sapaannya tadi. Ya Tuhan, ternyata kehadiran pemuda itu membuat pendengaranku rusak. Huft. Dengan langkah penuh hati-hati, aku mulai berjalan menuju bangku yang satu meja dengan bangkunya.

“Hyena! Kau kenapa? Sakit?” tanya Vika, manusia baik hati yang membuatku nyaman berteman dengannya.

“Aku baik-baik saja. Tenanglah!”

Aku meletakkan tasku di meja. Melihat pin lambang yang masih berbentuk bundar di dekat kerahnya, dapat aku simpulkan dia adalah siswa baru di sekolah ini. Napasku sedikit tersengal. Dia yang kuikuti kemarin, terus menatapku dingin. Tangannya terus menutupi mulutnya. Apa mungkin ada taring yang keluar di mulutnya? Taring untuk menghisap darahku? Apa dia menutup mulutnya untuk menyembunyikan taring itu? Tubuhku lemas seketika. Aku terduduk. Aku masih lemah dan jarang mengikuti latihan bertarung. Aku lebih senang dengan kehidupan sebagai manusia normal dari pada menjadi seorang tuan puteri yang tetap harus latihan bertaruh meskipun anak seorang raja. Jika makhluk ini ingin menghabisiku, maka dia akan mudah untuk mengalahkanku.

Bagikan :