Dia tidak memperhatikan pelajaran, tetapi bisa membuat catatan dengan hitungan sepersekian detik. Lalu menggesernya ke arahku. Sulit dipercaya.

“Bagus.” Mata guru itu memandangku heran. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Thanks.” Kataku ragu-ragu sambil menatap matanya yang hitam dengan bercak-bercak kemerahan jika diperhatikan lebih seksama.

Dia hanya diam dan menatapku sekilas tanpa senyuman namun sangat dalam menusukku. Ternyata dia sangat baik. Awalnya aku sempat berpikir bahwa bangsanya adalah makhluk abadi yang cita-citanya adalah membangun kerajaan kejahatan dan mengakhiri perdamaian dunia, namun sepertinya aku salah.

***

Saat istirahat, sosok yang menguji keberanianku itu keluar kelas. Sempat terpikir olehku untuk mengikutinya lagi. Tetapi aku mengurungkan niat karena panggilan temanku, lebih tepatnya manusia yang dekat denganku.

“Bagaimana dengan Elvams? Dia sangat tampan!” Vika membicarakan seseorang yang belum kukenal.

“Elvams?”

“Teman sebangkumu.” Ternyata Elvams namanya. Cukup keren.

Bagikan :