Jam pelajaran pertama dimulai. Guru Haruma pun memasukkin ruangan dan menjelaskan tentang unsur-unsur intrisik sebuah novel dan drama. Diakhir sesi pelajaran Guru Haruma memberikan satu motivasi untuk kami semua: ”Kesulitan tantangan adalah gula dalam hidup, jangan pernah kalian mengharapkan dapat manisnya gula bila tak berani menghadapi tantangan. Jadi … takut pada kegagalan dan jgn putus asa pada kegagalan.”

Kalimat itu sungguh menyihir paradigmaku. Dalam batin kuyakinkan diri tuk berani menyatakan cinta pada Rize, aku gak akan takut oleh tolakkan darinya. Yang terpenting aku sudah berusaha. Menjelang menit akhir jam pelajaran terakhir, aku sms Rize untuk ketemuan di bawah pohon mangga tempat biasa anak-anak SMK Ryukai santai pada jam istirahat.

Setelah bel pertanda pulang berbunyi aku langsung bergegas pergi ketempat yg sudah kujanjikan. Jantungku berdebar-debar. tangan jadi dingin, hmmm … mungkin karena ini pertama kalinya aku nembak cewek langsung ya bukan via sms.

Dari kejauhan kulihat Rize duduk sambil membaca buku. Langsung saja kuhampiri dia dan bertanya: ”Dek? Sudah lama nunggu?” tanyaku lirih padanya seraya mengambil posisi duduk di sebelahnya.

”Enggak kok baru aja adek sampek, kakak mau ngomong apa sama adek?” tanya Rize lagi sedikit bingung dan penasaran.

”Emm…. gini, Dek. Kakak mau ngungkapkan sesuatu keadek, adek jangan marah ya?” kumulai melakukan pembicaraan yang bertujuan masuk ke topik dengan hati yang sedikit gugup.

”Iya gak kok, Kak.. Hehe….” Ujar Rize sambil cengengesan.

”Kakak mau bilang … kakak suka sama adek. Adek mau jadi pacar kakak?” tanyaku perlahan dan penuh keyakinan.

Bagikan :