Terlepas dan berhambur di lantai. Sebelum akhirnya berteriak dengan histeris. “Nataaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

****

Peristiwa tragis yang terjadi pada dua tahun lalu itu sungguh menyiksa hati Alexa. Berita kepergian Nata tak ubah petir yang menyambar kehidupan bahagianya di siang yang cerah. Alexa bahkan menganggap bahwa Nata masih hidup, meski pun banyak kerabat serta keluarga Nata yang memintanya menyerah melawan takdir. Ia tidak dapat mempercayai Nata telah pergi sebelum melihat jasad pria itu dengan matanya sendiri.

Banyaknya pekerjaan yang harus ia selesaikan pada hari ini membuat gadis itu merasa jenuh. Sejenak ia bersandar pada kursi kerja seraya memandang keluar jendela. Mata gadis itu nanar mencari kesegaran suasana dibalik jendela raksasa itu. Mengistirahatkan pikirannya sejenak dari huruf dan angka yang membosankan. Gadis itu menatap pada sebuah cafe, merasa bingung sejak kapan cafe itu berada di sana, dan menyadari betapa bodohnya ia, karena tak pernah mengunjungi cafe yang tampak begitu ramai itu.

Bagaimana nanti sore aku kesana, mengapa begitu ramai cafe itu. Aku penasaran, batinnya sumringah.

****

Pertama kali Alexa melangkah masuk ke dalam cafe, dengan seketika aroma kopi dan coklat bercampur menjadi satu, mengudara memenuhi hidung gadis itu. Cafe yang unik, batinnya.

Bagikan :