Alexa memilih duduk di bagian yang memiliki jendela kaca yang sangat besar. Di cermatinya sekeliling cafe, “Aku pasti akan sering ke tempat ini,” ujarnya seraya tersenyum.

Tak berapa lama pramusaji datang dengan membawa buku menu. Gadis itu mengenakan kemeja putih lengan panjang, rok hitam selutut berbahan apron pendek dengan warna merah tua bertuliskan Cafe Town, dan juga make up mereka. Rambut panjangnya diikat dengan menggunakan hairnet berwarna merah. Alexa pun menjatuhkan pilihannya pada hot chocolate dan roti bakar extra keju. Sambil menyantap makanan, gadis itu kembali membuka laptop dan mulai berkutat dengan laporan-laporan yang menindas kebebasannya itu.

“Hujan?” lirihnya saat tersadar di luar telah turun hujan dengan derasnya. Pikirannya melambung jauh ketika dulu bersama Nata. Nata yang membuatnya mengagumi hujan, pria itu selalu menjadi pria menyenangkan saat hujan turun.

Huh… Nata… Apakah kau melihat hujan ini? batin Alexa melambung.

Di hirupnya aroma hot chocolate yang masih berasap itu, lalu diteguknya sambil memejamkan mata. Seolah setiap aliran chocolate yang diteguknya menghilangkan segumpal rindu yang perih menyayat hatinya. Dialihkannya lagi perhatiannya ke layar laptop yang berisi tarian data-data kantor yang membosankan. Saat Alexa sedang mengetik laporan, tiba-tiba saja terdengar suara gaduh membuyarkan konsentrasi gadis itu. Suasana cafe yang awalnya terasa menyenangkan berubah menjadi gaduh.

“Hei kamu, bagaimana bisa pesanan saya salah seperti ini.” Mata Alexa menyipit, berusaha fokus pada objek sasaran.

Bagikan :