“Haaa??” Alexa terkejut. Pria itu sudah ada di hadapannya dengan menyodorkan kain berwarna krem ke arahnya. Ia tersenyum ramah, hingga membentuk mata mirip lengkungan bulan sabit dibalik kaca matanya. Kali ini Alexa dapat melihat jelas wajah pria tersebut tanpa perlu menyipitkan matanya. Alexa terdiam sesaat setelah matanya bertemu dengan si pemilik manik coklat gelap itu. Jantungnya seakan tanpa dikomando berdebar dengan sangat cepat.

“Pakai ini, mungkin bisa membantu anda, Nona.” Ucapan pria tersebut menyadarkan Alexa.

“Oo.. ba- baik.. terimakasih,” ucapnya gugup sambil menerima pemberian pria itu.

Alexa pun kembali membersihkan roknya dari tumpahan coklat dengan kain tersebut dan pria tersebut pun pergi menjauhi mejanya dan kembali ke dalam sebuah ruangan yang diyakini Alexa ialah ruang kerja si pria bermanik coklat gelap itu. Saat Alexa menyadari hujan mulai reda dan jam sudah menunjukkan 10 malam, ia pun bergegas merapikan laptop dan memakai jaket mantelnya dan keluar dari cafe. Udara cafe yang hangat, sangat berbeda jauh dengan udara luar yang dingin . Alexa pun berjalan menyusuri trotoar hingga mendapatkan bus yang mengarah ke rumahnya.

****

“Halo Shin, ada apa nih nelfon?”

“ Lagi dimana, Xa?”

“Lagi dirumah ni, baru selesai mandi, kehujanan tadi. Ada apa, Shin?”

“Besok kau free tidak setelah pulang ngantor?”

Bagikan :