Alexa hanya mengangguk pasti. Tubuhnya terlempar-lempar didalam taxi membuatnya kesulitan memegang berkas dan laptop digenggamannya. Lagi–lagi Pak Suseno melirik kesipion depan.

“Tidak apa-apa buk?”

“Aman Pak, jangan hiraukan saya, yang penting cepat sampai “

“Baik, buk.”

. Yang jelas dalam pikirannya, omelan mama tidak dapat membuat menit melambat berkejar-kejaran dengan jarum detik yang memaksa jarum jam menunjukkan waktu pasti. Diambilnya tas dan laptop kemudian menyambar selembar roti dan pergi.

“ Alexa pergi ya, Ma!” teriaknya sambil menghilang dari pintu.

****

Matahari semakin terik mengeluar sinarnya, membuat Alexa menjadi semakin tak tenang. Ia masih berdiri tak karuan sambil menunggu taxi melintas di hadapannya. Mata dipasang dengan sangat siaga dan kepalanya terus menoleh ke kanan dan ke kiri berharap mendapatkan taxi yang kosong.

“Mana lagi nih taxsi, aduh… mati aku… mati akuuuu,” celotehnya sambil memutar-mutar jam tangannya. Hampir 15 menit ia menunggu dan akhirnya taksi yang di tunggu-tunggu pun datang.

“Pak, ke Patimura ya, kantor Exxos”

“Baik buk”

Bagikan :