“Andrea?” laki-laki itu tampak ragu, dia menatap Andrea tanpa berkedip kemudian mengangguk. “Well, we should go now.” Dia menarik koper Andrea dan mulai berjalan keluar bandara.

            Jarak bandara dan rumah masa kecil Andrea memakan waktu satu jam perjalanan mobil, Andrea memejamkan matanya sejenak. Kantuk yang dia rasakan membawanya tidur, tidur dan memimpikan mimpi yang sama setiap kali gadis itu pergi tidur.

“Rey…” Rea berlari secepat yang dia bisa untuk mencapai tempat Rey berdiri, “ayo main bersama.” Dia tersenyum sambil menggandeng tangan Rey.

            “Mainlah sendiri.” Rey melepas genggaman Rea, membuat gadis itu terlihat sedih. “Aku mau main sama Arin,” Rey kemudian tersenyum sambil melambaikan tangannya saat melihat Arin mendekati mereka.

            “Kita bisa bermain bersama,” Rea tersenyum ceria lagi, sedikit berharap dia bisa bermain bersama dengan Rey dan Arin.

            Arin terlihat cemberut, dia menggandeng tangan Rey dengan manja. “Tidak bisa, kalau Rea ikut main nanti jadinya membosankan. Ayo Rey, kita main.” Serunya sambil menarik Rey menjauh dari Rea, mereka terlihat gembira saat bermain.

            Rea terdiam sambil menunduk, air mata mulai berjatuhan dari matanya yang terlihat kosong. Tidak akan ada senyum ceria lagi yang terlihat diwajahnya, dia tahu Arin dan Rey membencinya tanpa alasan yang jelas, dia bahkan tahu hampir semua keluarganya tidak menganggap Rea ada. Dia hanya tidak ingin menyadari kenyataan itu, karena itu hanya akan membuatnya sedih.

            “Rea, kemana saja kamu?” suara Ibu terdengar keras, dia menghampiri Rea yang hanya diam saat dipanggil. “Rea kembali ke rumah kecilmu, jangan sampai ayah melihatmu keluar.” Ibu menarik tangan mungil Rea.

            “Apa yang kamu lakukan?” Rea menepis tangan ibunya, “jangan menyentuhku dengan tangan menjijikanmu.” Nada suara Rea terdengar mendesis, tatapan matanya terlihat menakutkan.

            Ibu terdiam kaku melihat tatapan Rea, “Ada apa denganmu?”

Download Full via GooglePlay : Download

Bagikan :