Arin memejamkan matanya perlahan, suara nyanyian Ibu mengantarkannya kealam mimpi. Dalam tidurnya, gadis kecil itu terus menyunggingkan senyuman puas dan senang. Tapi kemudian, Arin terlihat gelisah.

            “Andrea…” Arin menatap sosok didepannya tanpa berkedip, “apa yang kau lakukan disini?” gumamnya, gadis itu menatap jauh kedalam mata hitam pekat Andrea. Tatapan gadis itu menyiratkan kesedihan yang mendalam, bahkan terlihat nyata saat Andrea menatap kosong kearah Arin.

            Jantung Arin terasa sakit, gadis itu meremas dadanya dengan ekspresi kesakitan yang teramat sangat. Dia bisa melihat air mata mulai mengalir dikedua pipi Andrea, dan yang membuat Arin takut adalah…

            Arin mengernyit ngeri, pisau dalam genggaman Andrea terlihat haus akan darah, terlebih lagi karena pisau itu sudah terbasuh dengan darah kental yang menetes dari ujungnya. Entah darah siapa.

            “Maafkan aku.” Andrea berseru lirih, “maafkan aku…” gadis itu terus saja mengulangi kata-kata itu. Dan kemudian pisau yang digenggamnya terangkat, tapi kenapa ujungnya mengarah pada tubuh Andrea.

            “Rea…” Arin mulai berteriak histeris, tubuh Andrea seperti digerakkan oleh sesuatu, gadis itu tampak takut dan sedih. Arin terus saja meneriakan nama Andrea, tapi gadis itu seakan tidak mendengarkan suaranya.

            Andrea terus saja mengulangi kata-kata itu, berulang kali dengan suara yang terdengar lirih. Dan kemudian teriakan Arin terdengar, saat pisau itu mulai menembus jantung Andrea. Tapi gadis itu tidak menjerit sakit, dia hanya menangis—tangisan yang terdengar memilukan hati.

Ibu mengguncangkan tubuh Arin yang berkeringat dingin, “sayang. Kamu tidak apa-apa? Mimpi buruk yah?” Ibu terlihat khawatir, tapi gadis itu hanya menggeleng perlahan.

            Jantung Arin berdebar dengan cepat, mimpi itu terasa begitu nyata sampai-sampai membuat gadis itu menangis. Arin tidak mengerti, hanya Andrea saja yang tidak bisa dilihat masa depannya oleh Arin.

            Tapi, gadis itu terus muncul dalam mimpi buruk Arin. Dan semua mimpi itu berakhir dengan cara yang sama, membuat Arin kesal tanpa mengerti arti dari mimpinya.

Bagikan :