Andrea terlihat ceria seperti biasanya saat menghampiri Arin dan Rey, membuat Arin terus saja bertanya kenapa dia bisa memimpikan gadis itu berulang kali. Dan kenapa Andrea dalam mimpinya akan membunuh dirinya sendiri.

            “Ayo main.” Seru Andrea ceria.

            Rey menatap Arin, meminta persetujuan, tapi gadis itu menggelengkan kepalanya dan pergi begitu saja. “Tidak mau.” Ujar Rey kasar, dia langsung mengikuti kemana pun Arin pergi.

            Arin tersenyum puas dan penuh kemenangan saat Rey lebih memilihnya, dan kemudian jantung Arin terasa sakit, dia menekan dadanya perlahan. Gadis kecil itu mulai menarik nafas dalam-dalam, berusaha melawan rasa sakit yang membelenggunya kapan saja.

            “Ada apa denganmu?” suara Ibu terdengar kaget dan sedikit ketakutan, membuat Rey dan Arin memutar tubuhnya menghadap ke tempat Ibu dan Andrea berdiri.

            Jantung Arin mulai berdetak normal, Andrea sudah pergi meninggalkan Ibu yang masih saja terlihat shock dengan intonasi suara dan ekspresi Andrea yang tiba-tiba saja berubah.

            “Ibu kenapa?” Arin menghampiri Ibu, menarik lengan wanita itu dan menatapnya dengan tatapan keingintahuan yang besar.

            Ibu seakan tersadar dan langsung tersenyum manis kearah Arin, “Rea mungkin lagi sensitif. Biarkan saja dulu, nanti juga baik sendiri.” Ibu menyahut tidak yakin, Ibu yakin Andrea tidak akan pernah berbicara kasar seperti itu. Tapi, gadis itu melakukannya.

            “Ibu…” Arin menarik lengan Ibunya dengan manja, “Aku sudah tidak mau melihat Rea dirumah ini lagi.” Gadis kecil itu tahu permintaannya egois, bahkan terlalu egois.

            Ibu dan juga Rey terdiam saat mendengar permintaan Arin, hatinya seakan menolak satu permintaan gadis kecil itu. Tapi kemudian, Ibu tidak punya keputusan yang lain. Ibu akhirnya mengangguk, menyetujui permintaan egois itu.

Dalam rumah kecilnya, Andrea tertawa pahit gadis itu dapat mendengar permintaan Arin dengan jelas. Dan dia tahu, Ibu tidak mungkin tidak mengabulkan semua

Bagikan :