permintaan Arin, walaupun permintaan itu terlalu egois. Mereka terlalu menyayanginya.

            Air mata mulai mengalir, Andrea terus saja tertawa pahit sambil memeluk lututnya, dia mulai terisak keras. Tidak ada yang memperdulikannya, dan itu semua karena jantung lemah Arin.

“Bagaimana kalau dititipkan pada keluarga didekat sini? Supaya kita masih bisa mengunjungi Rea.” Ujar Ibu, saat itu Ibu dan Ayah sedang mendiskusikan tentang permintaan Arin.

            Ayah terlihat murung, “apa itu tidak terlalu keterlaluan? Maksudku, kita bahkan tidak memberikan kasih sayang pada Rea. Dan sekarang, kita akan membuangnya?” seru Ayah kurang setuju.

            “Aku tahu.” Ibu terlihat frustasi, “kita tidak membuangnya, tapi menitipkannya.” Ujar Ibu keras kepala,”pikirkan juga kesehatan Arin, kalau keinginannya tidak dikabulkan. Dia bisa stress, dan itu membuat jantungnya melemah.”

            “Bagaimana bisa kamu hanya memikirkan kesehatan Arin,” Ayah membentak keras. Membuat Ibu terdiam, “kalau begitu siapa yang akan memikirkan perasaan Rea? Dia masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya.”

            Ibu mengerutkan keningnya, dia tampak berpikir. “Rea tidak akan keberatan, dia gadis kecil yang kuat. Dan sekarang prioritas utama kita adalah Arin, sudahlah, aku akan menghubungi keluarga itu.” Ibu meninggalkan Ayah yang makin terlihat murung.

Bagikan :