Beberapa hari kemudian…

Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Arin, sepasang suami istri turun dengan wajah yang berseri bahagia. Arin yang melihat itu terlihat kesal, dia kemudian tersenyum licik, rencana jahat muncul begitu saja bagaikan bisikan kegelapan. Seakan Arin tidak ingin Andrea bahagia, walaupun bersama orang lain.

            “Rey bisa bantu aku…” ujar Arin, dia membisikkan sesuatu pada Rey, membuatnya membelalakan matanya kaget. “Hanya memutuskan kabel apa saja, aku tidak peduli.” Gumam Arin.

            Rey tidak punya pilihan lain, dia harus menuruti semua yang dikatakan Arin. Karena adiknya itu tidak bisa dibantah, nanti penyakit jantungnya kumat dan Rey yang akan disalahkan.

            “Ayo masuk…” suara Ibu terdengar ramah, “tunggu sebentar. Akan aku panggilkan Andrea.” Gumam Ibu, walaupun hatinya terasa sakit dia harus melakukan semua itu.

            Ibu kembali masuk dengan Andrea, gadis itu tampak murung, dia terus menatap kosong. Membuat siapa saja yang melihat tatapan itu, berpikir kalau gadis itu tidak memiliki ekspresi.

            “Hei, Andrea, gadis yang manis.” Ujar Desire, dia memperhatikan ekspresi Andrea yang berubah ceria. Tapi, kenapa gadis itu terlihat seperti sedang berakting senang?
Theo mengangguk setuju, “baiklah. Kita akan menjaganya dengan baik, kunjungi kami kapan saja.” Theo meraih tangan mungil Andrea, menuntun gadis itu keluar dari rumah.

            “Rea, ucapkan selamat tinggal.” Ujar Desire lembut.

            Andrea menatap Ibunya, kemudian dia tersenyum sambil memejamkan matanya perlahan. “Selamat tinggal.” Nada suaranya terdengar seperti janji yang akan ditepati, dia membuka matanya perlahan, menatap Ibunya untuk terakhir kalinya.

            Ibu yang melihat tatapan Andrea terdiam membeku, perasaan menyesal langsung muncul dalam hati mereka. Tatapan Andrea terlihat penuh kesedihan dan kepedihan yang mendalam, dan disaat bersamaan terlihat kosong dan kejam.

Setelah kepergian Andrea, Ibu tidak pernah melupakan tatapan terakhir gadis itu, Ayah dan Rey juga tampak bersalah dan sekarang Arin tampak lebih pendiam.

Bagikan :