Sejak dulu Arin tidak pernah menyukai Mike, mungkin dia hanya takut jika suatu saat nanti Mike akan menghancurkan kerja keras kakaknya seperti yang Mike lakukan pada atasan sebelumnya.

“Apa kakak tahu?” Arin menyenggol pundak Aurel, “aku bisa melihat masa depan lho.” Ujarnya semangat, bahkan saat mata Aurel berbinar saat mendengar hal itu.

            Arin tertawa, Aurel selalu saja bisa mencairkan suasana yang kaku, dia menyukai gadis itu. Dan juga, mungkin karena dia bisa melihat kakaknya—Rey bahagia saat bersama dengan Aurel.

            “Iya, aku bisa melihat, masa depan dan lalu, tapi satu orang hanya bisa satu diantara keduanya. Itu sesuai keputusan orang itu.” Arin berseru semangat lagi, kemudian Aurel tampak berpikir.

            “Bagaimana kalau masa lalu?” ujar Aurel.

            Arin termenung sejenak, “kenapa tidak masa depan? Semua orang yang aku tanyai, mereka memilih masa depan.” Dia menatap Aurel tidak mengerti, “tidak apalah. Baiklah, pegang tanganku.” Ujar Arin, dia menggenggam erat tangan Aurel.

            “Bagaimana?” tanya Aurel, setelah Arin hanya terdiam dengan kening berkerut dalam.

            “Kakak pernah bertemu dengan Rea…?” teriak Arin kaget, dia langsung melepaskan tangan Aurel dengan kasar. “Dimana kakak bertemu Rea? “ Arin mengguncangkan tubuh Aurel.

            Aurel hanya mengangkat bahunya, “aku tidak pernah bertemu dengan Rea.”

            “Tapi, Rea yang menyelamatkan kakak, saat kak Aurel diculik saat itu.” Air mata mulai mengalir dipipi Arin, dia tersenyum pahit. “Aku merindukan Rea.” Dia memeluk Aurel dengan erat.

END OF PROLOG

Bagikan :