Andrea melepas kacamata berbingkai putihnya dan menyimpan kacamata itu dalam kotaknya, dia merapihkan rambutnya yang mulai berantakan dan mengikatnya sekaligus. Mata gadis itu tidak lepas dari deretan awan yang mulai gelap dan seakan mengikutinya, perjalanan yang menghabiskan hampir satu hari waktunya membuat Andrea lelah. Dia bahkan sudah menghabiskan empat gelas kopi tapi tetap saja terjaga, itu membuatnya frustasi.

            Perjalanan menuju New York membuatnya bosan, dia bahkan tidak pernah menyangka keluarganya meminta Andrea mengunjungi mereka. tidak setelah peristiwa itu terjadi, tidak setelah dia membunuh Karin. Mengingat itu membuat hatinya sakit, dia ingin menangis tapi tidak bisa. Hatinya seakan membeku ketika semua orang menyalahkannya, ketika orang yang dia sayangi mulai menjauh.

            Guncangan pesawat membuat gadis itu kembali kedunia nyata, meninggalkan kenangan pahit. Pesawat mulai menurun, Andrea bisa melihat cahaya yang menghiasi kota New York pada malam hari. Cahaya indah itu membuatnya tersenyum, walau hanya sebentar.

            Gadis blasteran Jerman-Indo itu harus melewati setiap pemeriksaan bandara Internasional John F. Kennedy, mengambil koper dan mulai mencari Rey diseluruh bandara.

            “Andrea Grant…” tiba-tiba saja seseorang meneriaki namanya, Andrea menghentikan langkahnya dan berbalik mencari asal suara. Dia menatap laki-laki yang meneriaki namanya berulang-ulang, membuat orang sekeliling memandangnya aneh. “Where is she?

            Laki-laki itu meraih ponselnya, menelepon seseorang. Ponsel dalam saku Andrea bergetar, gadis itu mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dengan nomor asing itu.

            “Yes? So you the one who will pick me up?

            “Yeah.. where are you?” laki-laki itu tampak kesal dengan nada bicara Andrea, dia terlihat menggaruk kepalanya dan memandang sekeliling.

            “Turn around,” sambungan terputus. Andrea menyimpan ponselnya dan menunggu laki-laki itu berbalik menatapnya, “Turn around!” bentaknya, setelah menunggu lama dan laki-laki itu hanya diam seperti orang bodoh.

Bagikan :