BAB I

PELUANG

 

Riuh rendah suara hilir mudik orang-orang di Bandara Sultan Thaha. Sungguh bising! Hingga mengacaukan konsentrasiku. Aku ini lagi gelisah. Apa yang harus aku lakukan. Hari ini aku bersiap pergi ke Jakarta. Mencari pekerjaan untuk masa depan yang lebih baik. Aku sudah bosan dengan kehidupan yang kujalani datar-datar saja. Aku ingin keluar dari situasi ini. Serta memperoleh hidup yang baru. Segala kepahitan, kegetiran hidup, dan luka hati yang mendalam, akan aku buang ke sungai Batang Hari. Biarlah airnya membersihkan hatiku. Bersama dengan derasnya air yang mengalir.

Matahari tepat di tengah langit. Ketika aku tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta, aku melihat kanan kiri. Pembangunannya sungguh maju pesat. Beda sekali dengan kota ku, yang dikenal sebagai kota penghasil karet yang terbesar di Sumatera. Gedung-gedung tertata rapi. Ini kali kedua aku ke Jakarta. Biasalah kalau orang sepertiku ini. Dengan penghasilan yang pas-pasan ini, lama-lama sekali baru bisa ke Jakarta.

Dengan Bus Damri, aku menyusuri jalan. Mobil-mobil yang berharga di bawah seratus juta rupiah sampai yang berharga milyaran rupiah. Berbaris rapi di jalanan Jakarta. Sesekali terdengar bunyi klakson bersahut-sahutan. Sungguh memekakan pendengaran. Tapi apa daya, itulah ibukota kita. Ikon kota yang penuh dengan gedung pencakar langit. Penuh dengan mobil-mobil dari berbagai merek. Dari yang biasa hingga yang luar biasa.

Bagikan :