Aku juga tidak habis pikir, dari mana mereka memperoleh uang sedemikian banyak dalam waktu yang terbilang singkat. Lalu membeli mobil mewah, yang harganya mencapai langit. Ini jadi pemicu semangatku. Aku harus bisa. Harus berhasil. Harus seperti orang Jakarta yang sukses. Yang hebat, yang bekerja keras siang dan malam. Tapi aku harus jujur. Uang yang ku hasilkan haruslah uang keringat. Harus Halal. Karena darahku ini harus dialiri makanan yang bersih yang di dapat dari uang yang halal.

Aku terbangun, ketika mobil Damri tiba di Mangga Besar. Aku turun setelah ku keluarkan beberapa lembar lima ribuan rupiah ke Pak Supir. Aku berjalan masuk, sambil melihat rumah-rumah di sekitarnya. Tujuanku ke rumah Paman.

Rumah Paman berdiri sederhana, terdiri atas 2 lantai. Ukuran 8 meter x 12 meter. Saudara sepupuku yang membukakan pintu untuk ku. Dia menyambutku dengan senyuman. Sepupuku ini seumuran denganku. Sekitar 22 tahun. Namanya Silvia. Dia sekarang sudah bekerja di kantor Export-Import. Katanya sih gajinya lumayan besar.

“Apa kabar, Nana?” sambutnya mempersilakan aku masuk.

“Baik … Ini ada oleh-oleh dari Mama.” Jawabku sambil menyodorkan sekotak kue black forest buatan Mama.

Kami pun berbincang-bincang, saling bertukar kabar. Setelah lelah, akupun masuk ke kamar tamu yang mungil. Lalu aku pun terlelap dalam mimpi yang panjang tentang masa depan, yang terbentang jauh di hadapanku.

Bagikan :