Jantungku berdebar keras, aku harus bagaimana? Mau atau tidak mau harus dihadapi. Aku ke kantor, menyiapkan segala sesuatunya. Presenternya sudah aku make up, sekarang giliran Desi yang menata rambutnya.

Beberapa saat kemudian, penyanyi dangdut itu datang.

“Pagi, Mbak Claudia,” sambutku mempersilakan dia duduk.

Terlebih dahulu aku bersihkan wajahnya dengan susu pembersih dan penyegar wajah. Lalu aku mulai mendandaninya.

“Mbak, make up nya yang cantik ya,” katanya kepadaku sambil menatap mataku lewat kaca rias.

Aku mengiyakannya dengan mengacungkan jempolku.

Aku mengambil alas bedak yang berwarna beige, lalu mulai meratakannya.

“Aduh jangan warna beige, warna ivory saja,” protesnya

“Baik, Mbak Claudia.”

Padahal menurutku warna beige lebih cocok untuknya. Karena kulitnya sawo matang agak gelap. Kalau warna ivory nanti kesannya seperti pakai topeng. Tapi aku menurutinya saja, supaya dia tidak tersinggung.

Oh, akhirnya selesai juga. Aku lihat Claudia berdiri lalu mengambil tisu, lalu ia mulai menepuk pipinya.

“Mbak, ini terlalu tebal,” celotehnya terus sambil memperbaiki riasan wajahnya.

Bagikan :