Aku juga mengkhayal sedang berada di ketinggian, panorama alam yang cantik menjadi suguhan Kintamani. Yang utama, menikmati detik demi detik terbitnya matahari dari balik Gunung Batur hingga akhirnya sinarnya terpantul di permukaan Danau Batur. Elok dan anggun, hanya dua kata ini yang membekas di benak.

Danau Batur sendiri merupakan danau terbesar di Bali. Matahari terbit di gunung Batur ini pun bisa dinikmati dengan dua cara. Kalau lebih ingin bertualang dan merasa lebih dekat dengan sang sumber kehidupan biasanya memilih menikmatinya dari puncak Gunung Batur.

Bisa juga menikmatinya dari kejauhan, dengan berada di titik Panelokan terdapat sebuah penginapan yang menjadi favorit.

Aku juga ingin menyeruput seduhan kopi khas Kintamani. Bubuk kopi yang disangrai dengan irisan kelapa, baru kemudian diseduh, memberi rasa gurih di balik nikmatnya rasa dan aroma kopi yang kental.

Aku juga ingin makan ikan mujair bakar di padu dengan sambal matah khas Bali.

Disepanjang jalan penduduk menjajahkan jeruk, manggis, durian, buah naga, belimbing dan buah srikaya. Yang mereka tanam sendiri di Kintamani. Jeruknya yang sangat terkenal. Segar dan manis rasanya.

Aku juga ingin mengunjungi Tanah Lot, yang terkenal dengan kesakralannya dan keindahan alam yang luar biasa. Deburan ombak yang menghantam ke karang. Suaranya menderu-deru tiada henti.

Bagikan :