Ditambah dengan bentuk tubuh yang atletis dan aku yakin dia banyak digilai wanita. Dia masih menatapku tajam. Aku hanya bisa diam menatapnya yang mempesona. Perlahan dia mendekat. Chacha menarik rokku dan membuatku beralih menatapnya.

“Mommy gendong,” ucapnya sambil merentangkan tangan.

“I … iya,” ucapku.

Aku meraih Chacha ke dalam pelukkanku. Dia nampak senang dan mencium pipiku.

“Mommy, pipinya melah, Daddy lihat … mommy melona,” ucapnya kepada laki-laki di depan kami.

Aku baru menyadari kalau Chacha ternyata chadel. Aku hanya menatap bingung ke arah mereka.

“Hmm … maaf, Tuan. Sepertinya ini ada kesalahan. Sepertinya Chacha salah menarik orang,” ucapku.

“Dia benar Adel,” ucap laki-laki itu.

Tiba-tiba, laki-laki itu berlutut di depanku. Dia menyodorkan sebuah kotak hitam berisi cincin bertahtahkan berlian yang indah.

“Adelheid Larina Odhet menikahlah denganku,” ucap pria itu tiba-tiba.

Napasku tercekat mendengar permintaan laki- laki yang namanya saja aku tidak tahu. Aku menatapnya dengan tatapan horor. Ini gila dan aku yakin aku dikerjai.

Bagikan :