Chacha terkejut mendengar bentakkan Mikail yang menyeramkan. Jangankan Chacha, aku juga takut mendengarnya. Mikail menyadari kalau kami ketakutan melihatnya yang menyeramkan. Dia berdehem dan menatapku dengan tatapan yang lebih lembut. Chacha masih menangis tanpa suara dipelukkanku. Aku mendesah lemah.

“Sayang dengarkan mommy, anak cantik tidak boleh menangis. Nanti kalau cantiknya luntur bagaimana?” ucapku merayunya.

“Tapi … hiks … Mommy… tidak… hiks mau menjadi … hiks mommy Chacha.. hiks …” ucapnya terbata – bata.

“Tidak bukan begitu … hmm … mommy menerima lamaran daddy kok. Mommy mau menjadi mommy Chacha …” ucapku ragu.

Aku berdecak kagum melihat mata indah yang berbinar di mata Chacha. Chacha bersorak senang dan langsung menyuruh daddynya memasangkan cincin kejariku. Aku meringis saat melihat cincin itu yang nampak indah dijariku.

“Terima kasih,” ucap Mikail.

Aku mengangguk menanggapi kata-kata Mikail. Chacha mencium pipiku dengan ciuman basahnya. Dia langsung beralih kegendongan daddynya. Aku sempat gugup saat jarak kami terlalu dekat karna Chacha menarik Mikail agar lebih dekat denganku yang menggendongnya.

“Mommy, ayo kita makan malam. Daddy gandeng mommy.”

Bagikan :