Ingatannya masih terlintas jelas mengenai kata-kata Zen yang merendahkannya itu.

“ehhe.. siapa kamu??” dengan ekspresi meledek dan seakan tak percaya dengan gadis ini.

“Kau menyukaiku?? Apa sudah tak waras dirimu itu??” ucap Zen yang terus berucap.

Namun, Tetap tak memandangnya saat berbicara. mungkin menyukai atau menggagumi Zen adalah hal yang salah. Tapi tidak untuk rasa yang ada dihati eka. Zen adalah anak yang populer dalam sekolahnya itu, tanpa menjadi anak yang memiliki peran disekolah yang cukup berarti, membuat Zen dan ganknya tetap terkenal. Walau ketenarannya juga berpengaruh dari kekayaan dan kehebatan orang tua mereka. Namun, ketampanan mereka sangatlah ampuh membuat para gadis menggilainnya.

Kini Eka terus menangis tanpa menghiraukan siapapun. Setelah ditolak, diejek dan diperolok  oleh Zen dan semua murid memandangnya sinis disekolah, kini eka hanya bisa diam dan membodohi dirinya sendiri dengan apa yang ia lakukan. Eka langsung pergi berlari menuju kelasnya. Eka yang duduk membelakangi pintu kelas tak tahu kalau dari arah luar dan dibelakang pintu tepatnya, ada sesosok pemuda sedang berdiri sambil memegang pintu dan melihat eka yang sedang menangis.

Bagikan :