Entah mengapa melihatnya sesedih itu membuat orang seperti Zen seakan merasakannya juga. Zen sangat kenal siapa eka dan bagaimana sifatnya yang sangat terlihat bodoh didepan orang-orang.

“Apa pedulimu Zen!!! Pada gadis itu?? Yang ada, dia akan terus membebani dan menyusahkanmu.” ucap Zen sambil melangkah masuk ketempat dimana eka berada, tanpa memperdulikan perasaan gadis yang ada didepannya.

“Seharusnya kau berpikir untuk ribun kali untuk mengatakan hal itu dan mempermalukkanmu.” sambil membereskan perlengkapan sekolahnya.

 Eka hanya bisa diam dan tertunduk malu saat lelaki itu sekali lagi meremehknnya, sambil menahan isak tangisnnya eka pura-pura membaca buku dengan menutup mukanya. Eka takut kalau tangisnya maalah membuat laki-laki itu senang atas penderitaan yang dialami oleh dirinya sendiri.

Seharusnya eka sadar dan ingat masa yang menyedihkan itu. eka tau kalau Zen bukan tipe lelaki yang sabar, baik dan perhatian. Tetapi cinta memang tak pernah bisa ditebak untuk siapa akan bersandar. Masalah untuk memiliki dan dimiliki mungkin adala urusan yang lain, setidaknya sudah diungkapkan, tetapi mungkin salah jika eka mengungakapkan kepada seorang seperti Zen yang dingin, keras kepala, sombong dan agak kasar.

Bagikan :