Eka sudah mempersiapkan dirinya mengenai apapun yang akan terjadi setelah ia menyatakan cintannya. Tetapi ternyata tak semudah yang ia pikirkan untuk apa yang ia katakan.

Setelah melihat Zen tak berada disekitarnya, eka melepaskan buku yang menjadi penutup apa yang menutupi dirinya dari tangis yang ia sembunyikan. Kini tak perlu lagi ia menutupi dan bahkan ingin rasannya mengeluarkan semua gejolak yang ada dalam hatinnya.

“kau!! kau begitu bodoh ka, tapi aku mencintainya? Kau begitu bodoh hingga tak sadar diri!” ucap dalam batinnya menyalahkan dirinya sendiri. Mungkin sekarang eka sudah berada di sekolah menengah akhir, tapi cintanya pada Zen masih sama seperti masa SMPnya dulu.

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Kokok ayam dipagi hari seperti nyanyian  yang cukup merdu untuk hari ini. Eka masuk dengan murung dan sedih.  Zen penasaran melihat gadis itu, tapi tetap dengan ekspresi yang sangat dingin dan kaku.

“heh!! Minggir, jangan menutupi jalanku dengan badanmu yang lebar itu.” ucap Zen sambil menyenggol pundak eka yang berada disampingnya.

“ahh!!” eka kaget dengan apa yang dilakukan oleh Zen.

Bagikan :