SATU

 

Kenneth terbangun. Entah sudah berapa kali, dia tertidur, lalu terbangun, kemudian tidur lagi, dan akhirnya bangun lagi. Perjalanan hari ini benar- benar menguras tenaganya.

“Ken, maafin mama ya,” gumam mamanya dari bangku di sebelah supir. Dari spion tengah, beliau melihat tampang lelah anaknya. Sejujurnya, beliau tidak tega meminta anak ikut pindah bersamanya.

Kenneth tidak ingin menjawab. Dia terdiam dan menyenderkan kepalanya.

“Maafin soal apa?” tanya Kenneth datar. Dia tahu maksud mamanya dan dia sudah berusaha memahaminya sejak seminggu yang lalu.

“Harusnya mama gak egois dengan memaksa kau pindah ke sini bersama mama,” sahut mamanya pelan.“

Aku ngerti kok, Ma,” jawab Kenneth—setiap mamanya membicarakan hal ini.

walaupun dia tidak sepenuhnya mengerti tentang alasan utama kepindahan mereka ke kampung kelahiran ibunya. Suatu bagian kecil dari Indonesia yang belum pernah dipijaknya dan kini akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Dia yakin ibunya menyimpan alasannya sendiri mengapa beliau mau dimutasi ke kota kecil. Suatu tawaran yang biasanya akan ditolaknya mentah- mentah.

“Tapi mama masih khawatir, kau akan bosan. Di sini tidak sama dengan Jakarta.”

Bagikan :