Who knows … kalau kita gak mencoba.” Kenneth berusaha tersenyum. Matanya melirik ke luar jendela. Kampung ini tidak separah dengan apa yang di pikirannya. Di kiri- kanan jalan, dia bisa menemukan warnet dan counter pulsa. Apalagi, sinyal di ponselnya penuh. Mungkin, Kenneth bisa hidup tanpa makanan, tapi kepalanya bisa mendadak sakit bila tidak ada sinyal dan pulsa.

“Beneran? Kau gak kecewa dengan keputusan mama?” mamanya kembali menegaskan.

“Iya, Mama sayang,” kata Kenneth menanggapi pertanyaan mamanya. Baginya, tinggal di kampung se-terpencil apapun, dia akan menerimanya asal ada sinyal dan counter penjualan pulsa, hehe 😉

Lagipula apa haknya untuk marah? Mamanya telah berusaha sangat banyak baginya. Beliau melahirkannya saat suaminya meninggal. Kalau bukan karena rasa cinta yang tak terhingga padanya, mungkin sewaktu dia lahir, mamanya akan membuangnya atau menitipkannya ke panti asuhan. Kenneth menghela napas lagi. Rasanya, akan sangat kurang ajar bila melawan orang tua yang sudah sepenuh hati merawatnya dari kecil, mencukupkan kebutuhannya, dan membesarkannya sampai menjadi lelaki tampan.

***

Akhirnya taksi itu berhenti juga setelah kurang lebih enam jam perjalanan dari bandara menuju rumah barunya. Rumah tua itu terlihat mungil tapi cukup cantik walaupun tidak sekeren rumahnya yang dulu.

Bagikan :