Pekarangannya cukup luas, agak sedikit berbeda dengan rumahnya yang dulu. Rumahnya yang dulu memiliki pagar tinggi, sementara rumah ini tidak.

Sementara, ibunya dan supir taksi itu menurunkan barang-barang dari dalam mobil, Kenneth turun dari mobil sembari menatap bangunan di depannya sembari membanding- bandingkannya dengan rumahnya yang dulu. Anak ini belum move on rupanya.

Dia segera membantu mamanya ketika mamanya kesusahan mengangkat koper-koper yang beratnya setara dengan kambing siap potong.

“Iya, ini rumah kita yang baru. Mudah- mudahan, kau betah di sini,” seru mama mencoba terdengar riang.

Kenneth menanggapinya dengan mengangkat bahu. Entah menyetujui ucapan mamanya atau tidak.

***

Matahari telah siap memancarkan sinarnya. Sinarnya melalui jendela yang tidak tertutup tirai, memaksa mata Kenneth untuk terbuka. Matanya yang mengantuk juga terpaksa terbuka karena suara alarm dari ponselnya.

“Ciah, kenapa sekolah mesti pagi-pagi sih,” gumamnya setelah melihat jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh dan mengingat perjuangannya semalam membongkar- bongkar kardus dan meletakkan benda-benda di dalamnya ke tempat yang seharusnya. Dan itu membutuhkan waktu dan tenaga yang luar biasa mengingat mereka melakukannya hanya berdua.

Bagikan :