Sementara sang mama telah bangun dari dua jam yang lalu. Kali ini dia sedang membuat sarapan. Mi instan. Sesuatu yang jarang dimasaknya. Biasanya, beliau memasak ikan goreng sambal, atau paling tidak nasi goreng. Beliau tidak terlalu suka makan-makanan instan.

“Ken, ayo sarapan dulu … baru mandi.” Mamanya tersenyum melihat tampang kusut anak satu-satunya itu. Biasanya, dia tidak pernah bangun terlambat kecuali kalau begadang. Nah, semalam dia ngotot membantunya membereskan barang-barang walaupun sebenarnya matanya sudah setengah mengantuk.

        Masih dengan malas-malasan, Kenneth mengunyah mi gorengnya. Gak biasa- biasanya mamanya mengizinkannya makan mi instan. Sebagai analis, beliau tahu betul apa bahaya di balik lezatnya mi instan.

“Kau gak mau sekolah di sini ya. Maafin mama ya,” mamanya kembali berkata.

“Enggak kok,” jawab Kenneth cepat sembari buru-buru mengunyah makanannya sampai tandas. Dia tidak ingin melihat mamanya sedih. Sedari dulu, mamanya sering terlihat sedih dan Kenneth tidak ingin menambah kesedihan sang mama.

“Ken mandi dulu ya, ntar telat. Mama gak usah pasang tampang bete gitu, jelek,” Lelaki itu beranjak dari kursi. Sebenarnya, dia lebih menginginkan terlambat atau lebih baik gak usah sekolah saja dulu hari ini. Tapi mengingat dia tidak ingin mamanya merasa dia gak suka ikut pindah, dia harus terlihat riang.

***

Bagikan :