Beberapa hari ini, Kendra punya kebiasaan baru. Nongkrong di atas atap. Kalau biasanya dia bangun dengan tingkat kemalasan level sepuluh, kali ini dia bangun jam setengah enam pagi. Ketika kedudukan matahari masih dipegang bulan, ketika langit masih terlihat gelap, cewek ini sudah bersiap menatap langit dari gelap menuju terang.

Brukk!!! Sebuah sendal jepit mendarat tepat di wajahnya.

“Hwwweeeeeei, siapa sih yang kurang kerjaan lempar-lempar sendal?!! Sendal buluk lagi!” Spontan Kendra marah- marah.

“Tau nggak jam berapa sekarang?” Adiknya, Melissa, berteriak.

“Jam setengah tujuh. Emang kenapa, kau kan punya jam, ngapain nanya- nanya?” seru Kendra dengan berteriak juga.

“Kalau tahu sekarang jam setengah tujuh, kenapa kau masih nyantai- nyantai di atas atap?” sudah hampir seminggu, kakaknya suka nongkrong di atas atap, tapi Melissa masih heran kenapa anak aneh yang entah kenapa harus menjadi kakaknya itu mendadak hobi nongkrong di atas atap. Gak takut jatuh apa, suatu kali dia pernah bertanya. Dengan santainya Kendra bilang, “Semakin tinggi tempat di mana kita berada, semakin sakit pula bila kita jatuh. Bila kita takut jatuh, kita tidak akan tahu bagaimana caranya berdiri lagi,” dia mengakhiri kalimatnya dengan senyum misterius, bikin Melissa makin gak ngerti.

“Ya, aku tahu. Kasih aku waktu sejenak. Nanti pada waktunya, aku akan pergi,” kata Kendra tanpa ekspresi. Tangannya tak lagi memegang sandal. Kini tangannya menyilang di dada. Matanya memelas, tertuju pada langit pagi seperti meminta kekuatan pada sang empunya langit.

***

Bagikan :