Porsea, Toba Samosir. Kenneth menatap baliho iklan layanan masyarakat yang modelnya adalah Bupati dan ibu Bupati Toba Samosir yang berdiri tegak di pinggir jalan. Sekarang kata itu akan melekat di pikirannya dan akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, entah sampai kapan. Anak lelaki itu mengayuh sepedanya pelan-pelan sembari menatap kanan dan kiri jalan. Tidak terlalu buruk, pikirnya. Kampung ini tidak terlalu terpencil seperti apa yang diceritakan Oppung Anju, tetangganya dulu di Jakarta. Beliau bilang, daerah ini sungguh sangat tertinggal. Tidak ada listrik, tidak banyak kendaraan yang lewat dan jalanannya belum diaspal. Beliau begitu yakin dengan pengetahuannya padahal sudah lebih dari dua puluh tahun beliau tidak pernah menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya itu. Karena kenyataannya tidak begitu, kampung ini sudah dialiri listrik dan banyak kendaraan berseliweran. Ugal- ugalan dan kebut- kebutan.

Ciiit, sepeda yang dikendarai Kenneth mengerem mendadak. Syukurlah, yang hampir menyerempet adalah sepeda, bukan angkot yang mengebut seperti pembalap di sirkuit.

Refleks, Kenneth meminggirkan sepedanya dan membantu cewek yang juga berseragam putih abu-abu, sama seperti yang dikenakannya, “Lo gak apa-apa, kan?”

“Ups, lo?” cewek itu menaikan sebelah alisnya.

“Ya, lo itu artinya kamu,” sambung Kenneth lagi. Cowok itu sama sekali tidak menyadari bahwa maksud cewek itu menaikan sebelah alisnya bukan karena tidak mengerti arti ‘lo’ itu apa tapi lebih seperti ‘emang di mana tempat kau berpijak?’

Bagikan :