Cewek itu mendengus. Gak nyangka bisa tabrakan dengan sepeda butut. Gak elegan banget. Mendingan ditabrak sepeda motor atau mobil. Kan bisa minta ganti rugi, hehehe. “Hey, bukan cuma kau yang punya sepeda, jangan ugal- ugalan!” setelah bicara begitu, cewek itu memacu sepedanya dengan kecepatan tinggi. Hey, gak takut jatuh, Neng?

Kasar banget tuh cewek, dengus Kenneth, huh siapa yang bilang jangan ugal- ugalan, siapa juga yang ugal- ugalan.

Cowok itu kembali memacu sepedanya dengan pelan- pelan. Rasa- rasanya, saran cewek tadi ada benarnya juga. Apalagi kalau melihat angkot berwarna putih yang baru saja melintas. Entah gigi berapa yang diinjak sang supir.

“SMA Archipelago Porsea.”

Kenneth menatap agak lama papan nama yang kusam di depan pagar sekolah itu. Sambil mengatur nafas, anak lelaki itu memperhatikan bangunan yang akan menjadi tempatnya menghabiskan masa SMA-nya. Bangunan dua lantai dengan satu lapangan seluas lapangan voli yang dapat dilihatnya dari luar pagar. Anak-anak berseragam putih abu-abu sudah ramai bergegas memasuki area sekolah. Bertepatan dengan itu, dentingan lonceng terdengar cukup keras.

Em, not bad, pikirnya. Apa lagi yang bisa diharapkannya, sekolah ini tidak akan pernah sebanding dengan sekolahnya yang dulu. Sekolah yang cukup terkemuka di Jakarta.

Pelan-pelan, Kenneth mengayuh sepedanya menuju sudut lapangan yang secara aklamasi dijadikan tempat parkir sepeda. Betapa tidak, dengan sepeda yang rapuh, dia merasa sedang main sirkus. Mungkin sebelas dua belas dengan berjalan di atas tali.

Bagikan :