Dia masih tidak habis pikir, kenapa mamanya menyuruhnya naik sepeda yang yang rodanya nyaris gundul dan rantai yang aus. Suara deritannya membuatnya sedikit ngeri.

Kennneth mengelap keringatnya. Sebenarnya, dia bukan tipe cowok manja yang kaya yang kemana-mana naik mobil mewah. Kehidupannya di Jakarta juga biasa-biasa saja. Setiap hari dia ke sekolah naik metromini. Penuh keringat dan berdesak-desakkan. Sesekali juga dia iseng naik sepeda. Bedanya, sepeda itu sudah terlalu tua untuk dikayuh ke sekolah yang jaraknya kira- kira tiga kilometer. Sehingga diperlukan tenaga lebih untuk mengayuh sepeda dan menjaga keseimbangan.

“Pulang sekolah, sepeda ini harus direparasi,” gumamnya seraya kembali mengelap keringatnya dengan sapu tangan.

Kenneth berjalan gontai. Mencari di mana letak ruang kepala sekolah. Ketika sampai, di sana dia menemukan sesosok lelaki paruh baya dengan kumis lebat dan uban di mana- mana. Beliau terlihat senang dengan kedatangannya. Entah untuk alasan apa. Mungkin karena kedatangan murid baru dari ibukota negara. Tapi, apa istimewanya? Belum tentu dia lebih pintar dari murid di sekolah ini. Mungkin malah semakin menyusahkan dengan segala tingkah polah yang menyebalkan.

Bersama sang kepala sekolah, Kenneth berjalan ke kelas barunya, 3 IPS 2. Kesan pertama yang muncul di benaknya ketika memasuki kelasnya adalah seperti mundur ke lima puluh tahun yang lalu. Papan tulis kehijauan dengan kapur tulis, meja-meja kayu rapuh dan bangku-bangku panjang mirip bangku warung bakso. Belum lagi tembok kusam dihiasi coretan. Entah penuh coretan apa. Mungkin contekan.

Bagikan :