“Hai, sudah lama pulang?” Tanyaku kepada Rafi.

“Baru aja.”

Aku menatap jam dinding, sudah pukul 11 malam.

“Lembur lagi?” Rafi hanya menjawab dengan anggukan pelan.

“Kamu sudah makan? Aku buatin sup ayam loh.”

“Aku sudah makan. Sekarang aku mau tidur.” Tanpa basa basi, Rafi meninggalkanku dan masuk ke dalam kamarnya.

Aku menghela nafas panjang. Lagi-lagi dia seperti ini. Aku memang sudah biasa dengan sikapnya yang selalu mengacuhkanku. Tapi apa dia tidak menganggapku sebagai istrinya? Pernikahan kami memang diatur. Umurku dan Rafi berbeda 6 tahun. Sekarang aku berumur 21 tahun, sedangkan Rafi 28 tahun. Kami berdua sama-sama anak tunggal. Hubungan kedua orang tua kami memang sangat dekat. Papa dan ayah mertuaku merupakan teman sedari SMA. Jadi mereka sudah lama merencanakan perjodohan kami.

Aku ingat waktu pertama kali bertemu dengan Rafi sekitar 1 tahun yang lalu. Papa, mama, dan kedua mertuaku janji bertemu di sebuah restoran. Waktu itu aku diajak untuk bertemu dengan Rafi walaupun sebenarnya aku sama sekali tidak tahu kalau hari itu adalah hari untuk memperkenalkanku dengan calon tunanganku. Saat mereka memberitahuku kalau nanti aku akan menikah dengan Rafi, aku sangat terkejut. Tapi ternyata Rafi sudah mengetahuinya sejak lama, jadi dia tidak terkejut sepertiku. Kami semua sepakat pernikahan akan

Bagikan :