dilaksanakan setelah aku lulus kuliah. Jadi aku dan Rafi punya waktu untuk mengenal satu sama lain.

Setelah pertemuan pertama itu, Rafi mengajakku beberapa kali jalan berdua. Jumlah kencan kami cuma bisa dihitung dengan jari, sangat sedikit. Paling kami hanya nonton di bioskop dan makan malam di mall beberapa kali. Itu pun rasanya sangat tidak menyenangkan. Rafi pria yang sangat pendiam dan kaku, jadi selalu aku yang harus mengajak ngobrol duluan atau bertanya sesuatau tentangnya.

Kemudian tak di sangka beberapa minggu sebelum ulang tahunku yang ke 21, mama dan papa meninggal dalam sebuah kecelakaan. Mobil yang mereka kendarai ditabrak mobil lain saat mereka sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota. Karena kejadian memilukan itulah kedua mertuaku memutuskan untuk mempercepat pernikahan kami. Alasannya karena sekarang aku sebatang kara di dunia, jadi kalau Rafi resmi menjadi suamiku, akan ada yang menjagaku.

Jujur aku sangat bersyukur dijodohkan dengan Rafi. Dia adalah pria yang mapan, pekerja keras, dan juga tampan. Walaupun Rafi tidak pernah mengacuhkanku, aku akan terus bersabar sampai Rafi bersikap lebih lembut kepadaku. Selama ini aku beranggapan mungkin dia masih kaget dengan seluruh pernikahan tiba-tiba ini. Tapi aku yakin lama-kelamaan dia akan menerima kehadiranku sebagai istrinya.

***

Bagikan :