Padahal setiap hari aku membayangkan kalau ia akan memcium keningku sebelum pergi. Tapi sepertinya hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Setelah mengunci pagar, aku kembali ke dalam dan mencuci piring kotor bekas sarapan tadi, lalu membersihkan rumah sebentar. Saat sedang serius menyapu lantai, tiba-tiba telepon rumah berbunyi. Dengan langkah cepat aku langsung mengangkatnya.

“Halo…”

“Cit, kamu bisa ke kantorku?” Ternyata Rafi.

“Ke kantormu? Memangnya kena-“

“Tolong antarkan map biru yang ada di dekat komputerku.” Perintah Rafi langsung pada intinya.

“Tapi aku belum mandi…”

“Kalau gitu mandinya dipercepat sedkit, sebentar lagi aku ada rapat, dokumen itu penting !” Kata Rafi dengan nada kesal.

“Iya!”

“Oke, tolong ya. Kalau sudah sampai di depan kantor, telpon aku.” Belum sempat menjawab, telepon langsung terputus. Aku menghela nafas panjang. Mau tidak mau aku harus menolongnya.

Bagikan :