Aku mandi dengan sangat cepat, lalu segera berpakaian dan mengambil dokumen di kamar Rafi yang tertinggal. Setelah yakin bahwa semua pintu rumah terkunci dengan aman, aku berjalan sampai ke depan blok rumahku dan menaiki angkot menuju kantornya. Sesampainya di sana, aku langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana jeansku untuk menelepon Rafi. Dan saat itu pula tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku dari belakang. Aku pun langsung membalikkan badan, ternyata Rafi.

“Mana?” Rafi menjulurkan tangan kanannya. Dokumen yang dia minta langsung ku serahkan kepadanya.

“Malam ini kamu ga kemana-mana kan?” Tanya Rafi.

“Ga kok, kenapa?”

Tumben dia tanya. Apa iya dia mau ngajak jalan keluar?

“Ada acara kantor, aku mau kamu ikut.”

“Acara apa?”

“Ga perlu tau, pokoknya ikut aja!” Belum sempat menjawabnya, Rafi langsung membalikkan badan dan berjalan meninggalkanku.

Dengan perasaan kesal, marah, dan sedih, aku berjalan pergi meninggalkan kantor suamiku. Tega sekali dia! Aku ini istrinya! Kenapa dia selalu bersikap sedingin itu denganku? Apalagi tadi aku menolongnya, setidaknya dia mengucapkan terima kasih kepadaku.

Bagikan :