Badannya cukup tinggi, aku sampai harus mengangkat kepala untuk melihat wajahnya. Wow, tampan sekali. Aku memperkirakan usianya lebih dari 29 tahun. Penampilannya sangat rapi. Dia berpakaian serba hitam, mulai dari celana, jas, sampai sepatu.

“Kamu ga pa-pa?” Aku menjawab dengan menganggukkan kepala perlahan.

“Kalau jalan jangan melamun. Untung aja supir saya cepat injak rem.” Katanya sambil tersenyum kepadaku. Aku membalas dengan senyum juga. Senyum kikuk yang aku yakin membuatku terlihat sangat konyol di hadapannya.

“Maaf…” Kataku dengan suara bergetar.

“Oh, sepertinya kamu masih trauma. Seharusnya saya yang minta maaf.” Pria itu lalu mengeluarkan dompet dari saku di dalam jasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan.

“Ini, sebagai tanggung jawab saya.” Pria itu memberikan uang itu kepadaku. Sedangkan aku menatapnya dengan bingung.

“Uang ganti rugi.” Katanya sambil tersenyum kecil kepadaku.

“Oh, ga usah om. Saya ga kenapa-napa kok.”

“Loh ambil aja…”

“Ga usah om, saya beneran ga pa-pa. Ni liat kan?” Aku memutar badanku perlahan di hadapannya untuk menunjukkan kalau kondisiku baik-baik saja, walaupun sebenarnya itu tidak perlu.

Bagikan :