PROLOG

 

Jauh disana. Tampak seorang gadis yang berjalan bergandengan tangan dengan salah satu pria. Jemari mereka berdua terpaut saling menggenggam, sesekali matanya saling melirik—kemudian tersenyum secara bersamaan.

Tanpa sadar, ada yang memperhatikannya dari jauh.

Dengan sorot terluka, pria yang menatap kedua sejoli itu hanya menahan sakit dibalik rongga dadanya. Karena memang lelaki itu bisa apa? Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain merasakannya.

Seseorang menyentuh punggungnya pelan. Membuat pria yang memfokuskan pandangannya tadi menoleh, mendapati rekan kerjanya.

“Kalau menyakitimu, kenapa selalu dilihat?” Marc namanya, Marchisio Summer. Rekan kerja Stefan, sekaligus sahabatnya.

Stefan tersenyum kecut, “Aku merindukannya. Itu saja,” sahut pria itu. Kemudian menunduk lesu, menatap sepatu yang membalut kakinya.

Marc hanya tersenyum, kemudian kembali kemeja kasir, mereka berdua adalah seseorang yang berjuang hidup sendirian. Sedari kecil, mereka sudah ditinggalkan kedua orang tuanya. Entah memang kedua orang tuanya sudah meninggal, atau memang tidak sudi dengannya. Tidak ada yang tahu.

Mereka berdua sudah seperti kakak-beradik, bersama menuju kekehidupan yang layak, berbagi antara sakit dan senang. Mereka dibesarkan dilingkungan yang sama, yakni panti asuhan.

Tapi meski dibesarkan di sana, mereka tidak pernah mengeluh apapun, atau bahkan selalu bertanya dimana orang tuanya, mereka mengarunginya sendirian dan tanpa pernah peduli pada orang yang melahirkan tapi tak bisa membesarkan mereka.

Marc hanya menatap pilu pria yang akhir-akhir ini selalu murung, Marc memang sudah menganggap Stefan seperti kakaknya. Ia dapat merasakan bagaimana perihnya hati Stefan, saat melihat gadis yang paling ia cintai itu sudah berpaling kelain hati.

“Hai sayang!” Marc tersentak saat mendapati panggilan yang memang sudah sangat dikenal oleh Marc. Panggilan yang tidak pernah bosan untuk ia dengar meski beratus-ratus kali.

Annabella Grace Justice. Kekasihnya.

Marc melirik kearah gadis kesayangannya itu, gadis itu tampak tersenyum dan memamerkan kotak makanan pada Marc.

“Owh…apa yang kau bawa, Sweetheart?” Tanya Marc terlihat tertarik dengan apa yang dibawa Anna. Gadis itu membawa dua kotak yang diyakini Marc adalah makanan.

“Satu untuk sahabat misteriusmu itu, dan satu untuk kita.” Gadis itu tampak menggigit bibirnya malu, setelah mengatakan kalimat terakhir yang ia ucapkan.

“Ho ya? Memangnya kau sanggup berbagi denganku, ehm?” Tanya Marc pelan. ia sengaja menggoda kekasihnya itu.

Anna mencebik, bibirnya merengut kesal. Meski begitu, Marc tetap menyukai gadis itu. “Aku bukan gadis rakus, kau tau.” Sahut Anna.

Bagikan :