“Jangan terlalu lemah, Stefan!” Marc tahu, mungkin jika pada saat itu ia yang berada di posisi Stefan, maka bisa saja ia lebih parah dari ini.

Marc tahu, cela yang dimiliki Stefan lebih besar dari apa yang ia miliki, Marc hanya tidak bisa membaca karena otaknya yang lambat dalam hal membaca, tapi Stefan tidak bisa mendengar.

Bukankah pendengaran juga merupakan hal yang penting, kare-na tanpa pendengaran siapapun akan susah untuk berkomunikasi.

“Ya, terserah kau mau mengataiku lemah. Tapi aku berharap suatu saat nanti kau mengalami apa yang aku alami, agar mulutmu tidak sembarangan saat berbicara.”

Dan untuk pertama kalinya, Marc menyesal telah mengasihani pria tidak tahu diri yang sekarang berada di hadapannya.

Marc maju selangkah ingin memberikan bogem, tapi ia urungkan. Sialan maki Marc dalam hati. Kenapa bisa ia hidup dengan pria seperti ini.

“Oke. Terserah kau mau bicara apa, kesempatan tidak datang dua kali, Stefan.”

Stefan yang menunduk tak sempat membaca gerak bibir Marc. Namun kelihatan Marc sedang meneruskan perkataannya sekarang.

“Dulu kau selalu menatapnya dari balik kaca. Sekarang saat ia dihadapanmu, kau malah mengabaikannya. Aku menyesal telah mengasihanimu, Stefan.

“Bahkan kau membiarkannya pulang malam hari sendirian, itu yang kutanyakan. Apa yang ada didalam otakmu?” Marc berbicara panjang lebar.

Kalimat terakhir mengusik Stefan. Ia membiarkan Alicia pulang sendirian? Benar.

Brengsek kau, Stefan. Maki Stefan pada diri sendiri.

Yang terlintas dipikirannya sekarang, apa Alicia tidak apa-apa. Baru teringat. Kalau gadis itu tengah kacau, ia pasti menghabiskan waktunya ketempat biadab. Oh, astaga.

Tanpa mendengar ocehan Marc lagi, Stefan berbalik. Melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.

“Apa yang ingin kau lakukan, Stefan?” Teriak Marc. “Oh dia tidak bisa mendengarmu, Marc.” Marc segera menyadari kerugian yang dilakukannya sekarang, yakni berteriak.

“Apa lebih baik?” Tanya Andrea disamping Alicia sembari mengusap-usap punggungnya.

Gadis itu hanya terdiam, wajahnya tampak pucat. Bahkan kepalanya pun sangat pusing. Mungkin efek alcohol tadi malam.

“Kenapa kau sampai ketempat itu, Alicia?” Tanya Andrea pelan. Matanya menatap gadis itu khawatir.

Awalnya memang Andrea tidak yakin saat dirinya dijodohkan dengan gadis ini. Tapi keyakinan itu sekarang berubah menjadi sangat yakin. Entahlah, Andrea bahkan heran kenapa ia langsung jatuh hati pada gadis seperti Alicia.

Cantik? Pemilik kata cantik mungkin banyak didunia ini, tapi jujur. Andrea melihat Alicia sangat berbeda. Ia bahkan lebih dari cantik.

“Aku menemuinya,” sahut Alicia pelan. “Tapi ia mengusirku.” Sambungnya lagi.

Gadis itu menundukan kepalanya, memejamkan matanya mencoba meredam rasa sakit dihatinya.

“Kenapa ia tega mengusirmu?” Tanya Andrea.

Download Full via GooglePlay : Download

Bagikan :