Gadis itu kini mengeluarkan satu kotak tersebut, satu kotaknya lagi ia berikan untuk sahabat Marc itu, “Berikan pada pria dingin, misterius itu. Marc.” Perintah Anna—sesekali matanya menatap punggung pria yang ia maksud.

Pria itu tampak tak memperdulikan aktivitas mereka, ia hanya sibuk mencatat sesuatu pada buku. Entah apa itu, ia tidak tahu. Dan Anna memang tidak ingin tahu itu. Tidak penting baginya.

Marc berjalan kearah Stefan yang sedang mencatat sesuatu, melirik sedikit kearah  buku tulis yang dibubuhkan pria itu dengan tinta pulpen berwarna hitam. Marc menyipitkan matanya, mencoba mengeja pelan-pelan. Jangan lupakan, bahwa Marc mempunyai kekurangan. Yakni disleksia.

Menyadari arah pandangan Marc, Stefan segera menutup buku tersebut.

“Ada apa?” Tanya Stefan.

Marc merasa kecewa, karena tak sempat melihat apa isi tulisan pria itu. Namun, Marc cukup tau diri, Stefan tidak mengijinkan ia untuk tahu sedikit saja isi dari tulisan tersebut.

Marc menyodorkan kotak makanan itu pada Stefan, “Untukmu, Anna memberikannya.” Stefan segera menyambut kotak tersebut. Ia memutar pandangannya kearah gadis yang duduk pada meja pengunjung. Gadis itu tampak tersenyum, menampilkan deretan gigi putihnya.

Stefan hanya mengangguk, “Bilang padanya. Terimakasih.”

Marc hanya mengangguk, tak mau berlama-lama. Marc kembali menghampiri kekasihnya tersebut.

Stefan menatap kotak makanan itu dengan pandangan kosong. Ia ingin diperlakukan seperti Marc. Ia ingin seberuntung Marc meski dengan kekurangannya. Pria itu mendapatkan cinta yang tulus dari Anna.

Tidak dengannya, Alicia menjauhinya saat tahu kekurangannya.

“Aliciaku.” Lirih Stefan.

Bagikan :