CHAPTER 1

 

That’s perfect, not necessarily makes me happy – Annisa

 

Gadis itu memandang langit tanpa bintang, langit itu tidak hitam tetapi, kelihatan merah. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan.

Alicia, gadis itu merasakan dadanya bergemuruh. Ia merindukan seseorang yang bahkan ia tahu seseorang yang ia rindukan itu sekarang terluka. Alicia sadar, bahwa dirinya seperti satu jarum yang menggores hati pria itu, tetapi bagi Alicia. Ia hanya ingin satu jarum saja untuk melukai pria itu, tidak dengan ribuan jarum.

Meski satu jarum juga akan melukainya, tapi bukankah lebih baik daripada ribuan jarum.

Pasti setiap orang menganggap dirinyalah yang bersalah. Kalau boleh dikatakan Alicia juga merasa sakit berada diposisinya sekarang. Merindu setengah mati, tanpa bisa mengutarakan dan hanya bisa berpura-pura tak terjadi apa-apa.

“Jaga dia, meski tidak untukku.” Alicia bergumam tak jelas. Matanya mulai memerah sama seperti langit malam yang sebentar lagi juga akan menumpahkan ribuan bulir air jatuh ke bumi, dan airmata Alicia jatuh meluncur membasahi pipi.

Dirasakan dadanya yang sesak. Bayangannya bersama pria itu muncul.

“Permen kapas?” Tanya Stefan pada Alicia sambil menunjuk sipenjual permen kapas.

Alicia menggelengkan kepalanya, “Tidak, tidak. Aku tidak suka, Stefan.”

Stefan menarik pergelangan tangan gadis itu, “Kau belum mencoba, kupastikan kau akan suka setelahnya.”

Benar, Alicia tak pernah mencoba permen kapas. Entah kenapa, ia hanya takut sakit gigi. Karena ia pernah melihat adiknya menangis seharian semalaman, hanya karena sakit gigi. Dan itu karena memakan permen kapas.

Sesampainya didepan penjual permen kapas, Stefan memesan dua buah. Untuknya dan Alicia. “Kau lihat kan? Permen kapas itu awalnya akan menggelembung besar. Tapi setelah kau jilat ia terasa manis. Dan, apabila kau abaikan, ia mengerucut”

Alicia mengernyitkan dahinya, mencoba mengerti apa yang sedang dijelaskaln Stefan tentang filosofi permen kapas. “Lantas?” Tanya Alicia.

“Sama seperti cinta, apabila kau merasakannya maka akan terasa sangat indah dan nyaman. Apabila kau mengabaikannya, ia akan kecewa.”

Oh nice quote—batin Alicia.

Airmata itu meluncur tanpa bisa dicegah. Apa pria itu akan sama seperti permen kapas? Ia akan kecewa, bahkan tak terlihat lagi bentuknya karena mengerucut akibat terlalu banyak menahan kecewa?

Tentu saja, bodoh—iblis di dalam diri Alicia memaki.

“Alicia,” Alicia berbalik, dan menghapus air matanya secara kasar. Ia mendapati wajah ibunya yang masih terlihat cantik diusianya yang mendekati hampir setengah abad. Meski, banyak terdapat kerutan pada pipinya.

“Iya, Mom?” sahut Alicia.

Bagikan :