Alicia menundukan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang terasa sembab akibat air mata. Langkah wanita itu tampak terdengar mendekati Alicia.

Wanita itu mengangkat wajah Alicia lembut, menaikan sebelah alisnya curiga. “Apa yang kau tangisi?” nada angkuh wanita bertanya pada putrinya, matanya menatap intens Alicia.

“Apa kau menangisi pria sampah itu?”

Seakan ada yang menarik jantung Alicia secara paksa, dadanya bergemuruh—tak menyangka ibunya mengeluarkan kata sesarkastik itu. Alicia merasa menyesal lahir dikalangan keluarga kaya raya, serta otoriter. Baginya itu terlalu berlebihan, apalagi ibu Alicia yang selalu ingin tampak perfeksionis—pastilah ia ingin yang terbaik dikeluarganya.

Termasuk menentang hubungan Alicia pada pria yang memiliki kekurangan. Bagi ibu Alicia, putrinya harus menghabiskan waktu bersama dengan pria tanpa cela.

Namun Stefan punya cela, sangat besar bahkan sangat kelihatan, kekurangan itu bahkan hanya bisa disimpan pria itu dengan diam dan bertingkah seolah ia juga sama normalnya dengan orang lain, hal itu tentu menyakitkan untuknya.

“Dia punya nama, Mom.” tekan Alicia.

“Kau masih mencintainya?” tanya wanita itu, tangannya menggenggam gelas berkaki yang berisi anggur.

Sangat—Teriak Alicia dalam hati. Andai ia bisa menyuarakannya secara langsung, maka mungkin saja kata itu menggambarkan kesakitan Alicia.

Rasanya, Alicia ingin melawan tapi ia takut, meski ia adalah gadis keras kepala, namun jika diingat sekali lagi jika keluarga Alicia memiliki kekuasaan yang besar, mereka keluarga terpandang dan bisa saja mereka menyakiti orang yang Alicia sayangi.

Tidak akan pernah tahu bukan.

Alicia menghela napasnya, kemudian menggelengkan kepala. “Tidak, Mom, aku tidak akan mencintainya lagi.”

Tidak Stefan, aku mencintaimu. Aku hanya ingin melindungimu.

Wanita itu tersenyum merekah, “Yah! Bagus, Al.”

Dengan gerakan anggun, wanita itu meninggalkan Alicia yang masih berdiri, merasakan sakit pada dadanya. Ia bahkan menggigit bibirnya sendiri untuk meredam sakit itu.

“Aku mencintaimu, Sayang, sangat!” gumam Alicia kemudian merundukan wajahnya.

Alicia memejamkan matanya, ketika itu setetes air mata meluncur membasahi pipinya, Alicia tidak tahu, kisah membahagiakannya bersama pria itu apa akan hancur kedepannya. Meski Alicia tidak pernah ingin itu terjadi.

Bagikan :