Hari yang sama. Setiap hari selalu begini, siklus membosankan yang harus dijalani Stefan.

Awalnya kesehariannya tidaklah membosankan seperti ini, ketika gadis itu masih berada disisinya, tapi ketika gadis itu sudah tidak ada lagi—maka kehidupannya berubah seperti ini.

Saat Stefan hendak masuk kamar, seseorang menyentuh bahunya. Membuat ia segera berpaling, dan mendapati Marc yang menggumamkan sesuatu.

“Anna mau kesini,” ucap Marc. Senyum pria itu tampak sangat senang hari ini.

“Oh ya? Lantas?” Stefan memang tidak mengerti maksud dari pernyataan Marc. Bukankah, Anna memang sering mampir kerumah mereka.

“Dia membawa sesuatu untukmu,” tutur Marc.

Marc mengedip-ngedipkan matanya, seolah membawa berita bagus yang akan membuat Stefan senang. Tapi tanggapan Stefan biasa saja, ia tidak akan merasakan kesenangan yang luar biasa. Kecuali, Alicia ada disisinya.

Well, ia terlalu terobsesi dengan gadis itu. Karena memang cintanya tumbuh terlalu dalam, membekas dihatinya tanpa bisa ia hapus lagi.

Tapi untuk bertemu gadis itu, mungkin diperlukan nyali yang tinggi sekarang. Stefan merasa tidak percaya diri lagi jika bertemunya.

Tok…Tok…

“Ah, itu pasti, Anna.” Marc segera berjalan menuju pintu awal. Stefan hanya menatap punggung Marc yang menuju pintu untuk membukanya.

Saat pintu terbuka. Marc tampak tersentak mendapat penyerangan secara mengejutkan dari Anna yang langsung melingkarkan tangannya memeluk Marc.

Tapi, bukan itu yang menjadi fokus Stefan. Ia terfokus pada gadis dibelakangnya.

Stefan tahu diri, ia sekarang tidak ingin menghampiri gadis itu kecuali gadis itu menginginkannya. Stefan masih menatapnya dari depan pintu kamarnya. Alicia belum menyadari tatapannya.

Sementara itu, Alicia menatap kedua sejoli yang tampak berlebihan didepannya ini dengan pandangan jengah.

“Dia mana?” Tanya Alicia pelan. Pada Marc yang masih sibuk berpelukan bersama Anna.

Oh, lucu sekali pasangan ini.

“Oh, Anna. Hentikan aksimu sebentar, Sayang.” Marc mendorong pelan tubuh Anna. Kini mata coklat itu tampak menatap Alicia.

“Di depan kamarnya, kurasa kau tau dia akhir-akhir ini sensitif sekali.” Sahut Marc menjawab pertanyaan Alicia.

Alicia mengangguk pelan, lantas ia berjalansaat matanya mengarah pada kamar pria itu. Sempat dilihatnya Stefan yang masih berdiam di depan kamarnya tanpa menghampirinya.

Apa ia marah?

Apa ia kecewa?

Apa cintanya berubah benci untukku?

Tiga pertanyaan itu berkelebat dipikiran Alicia, ketakutan langsung dirasakan gadis itu. Tanpa sadar, ia berlari kearah Stefan yang masih diam—menatapnya datar.

Bagikan :